POLITIK & DRAMA

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kemarahan ada akarnya,
keinginan yang tak terpenuhi.
Jangan tebas pucuknya,
bongkar akarnya.

Cepat atau lambat kita akan belajar,
Dunia ini, yah begitulah,
Tidak bagus dan banyak buruknya,
Itulah mengapa para bijak tidak merubah dunia,
sibuk membangun jalan semata,
untuk membebaskan diri dari sini.

Bagai malam yang berbatas,
Kejahatan takkan pernah bertahan lama,
Cahaya surya mungkin berbatas,
Harumnya kebaikan hati menjangkau melampaui ujung semesta.

Semua derita sumbernya satu,
Kurang pemahaman semata.
Hanya ketika kita melihat dengan mata kebijaksanaan,
Ada harapan bagi berakhirnya perih.

Lari dari masalah,
memang salah satu cara yang umum dipakai,
Namun, selama pemahaman masih kurang,
kesempatan belajar yang lain akan menghampiri, selalu.

Masalah di luar selalu ada,
Namun bagi hati yang tercerdaskan oleh kebijaksanaan,
Daya imbasnya jadi tak berarti,
Seperti bayi tak mampu menanggung sentuhan tongkat,
Namun itu tidak berarti bagi atlet binaraga.

Berhadapan dengan dunia yang busuk,
Mereka yang bijak pertama menjaga dirinya,
agar tidak ikut membusuk,
Lalu belajar memahami apa penyebab kebusukan,
Kemudian, mencari, menekuni jalan keluar dari kebusukan.

Politik dan drama lumrah di semesta.
Tapi satu hal,
Bila kita alami ketidaknyamanan,
itu disebabkan buah kamma buruk lampau.
Bila kita membalas dengan kejahatan,
Itu jadi benih ketidaknyamanan baru utk masa kini dan mendatang.
Bila kita tanggapi dengan pemaafan dan kebaikan,

Akan ada batas waktunya,
“Ketidakadilan” akan gugur bertahap,
Karena kekuatan kebajikan jauh berjaya dibanding kejahatan.

Kami mungkin belum bisa membantu banyak,
Berharap engkau bersabar,
Berlindung dalam kebajikan,
Kembangkan belas kasih dan kebijaksanaan semampunya,
Maka pada waktunya,
Engkau akan paham manfaat dari semua pengalaman ini.

Pola pikir kita kadang terasa beralasan dan rasional, sahabat.
Namun, memang itu yang jadi proses pembelajaran
di masa transisi kehidupan,
Di masyarakat manapun politik dan pelanggaran norma terjadi,
Yang ikut arus, yang lemah terseret,
akan musnah cepat atau lambat,
Nama dan tubuhnya membusuk dikalangan generasinya,

Namun,
yang teguh, kokoh bersinar dengan moralitas,
Tak goyah diterjang arus,
Bila kebajikannya diarahkan pada Puncak Kebaikan Hati,
Bercah’ya dan harum sepanjang masa.

Biarlah saya, anda, dan semua makhluk
tanpa batas tanpa hingga di seluruh Semesta Raya,

Menikmati Pembebasan Sempurna, Ketanpamatian,
Arahatta,
Sesegera mungkin, secepat mungkin,
senyaman mungkin,
dalam saat ini juga,
Sekarang juga.

May all Blessings, eternally, Be.
Biarlah segala berkah, selamanya, beserta.

Photo by Hiu1ebfu Hou00e0ng on Pexels.com